Pages

Jumat, 23 Januari 2009

Kematangan Mental Bangsa Indonesia

Dalam kehidupannya bangsa Indonesia merupakan bangsa yang kaya akan segala sumber daya, baik sumber daya manusia, alam, dll. Tetapi dalam peranannya bansa Indonesia memiliki pemikiran yang sempit dalam hal dunia pemberdayaan dan pendidikan. Hal ini terbukti dengan banyaknya kemiskinan dan pendidikan yang dianggap masih sangat kurang mendukung dalam kehidupan saat ini. Tak layak jika setiap anak Indonesia menjadi budak dari segala penindasan. Kita patut bersedih dengan kondisi saat ini, karena Indonesia merupakan bangsa Yang Makmur dan Memiliki kekayaan dalam setiap lapisan. Unsur - unsur ini lah yang seharusnya menjadikan bangsa Indonesia sebagai landasan dari berbagai negara, tetapi malah sebaliknya Indonesia dijadikan budak dari seluruhnya, mulai dari perekonomian, pendidikan, dll. Hal inilah yang menjadikan mental bangsa Indonesia menjadi merasa ditindas dan ditekan. Pemerintah juga tidak dapat bergerak secara utuh, dalam pemberdayaannya. Tingkat kemiskinan menjadikan seluruh bangsa Indonesia terkekang dalam segala bidang. Tak jarang banyak terjadinya peristiwa tragis yang menghendaki kemiskinan segera diberantas, contohnya adalah peristiwa "TRISAKTI" tahun 1998 yang merenggut beberapa nyawa mahasiswa, karena mereka ingin bebas dari kemiskinan dan penghinaan. Ingin kesejahteraan dan kehidupan yang layak. Pemerintah terlalu arogan dan bertindak semena - mena terhadap bangsa ini.
Memang bangsa Indonesia telah terlepas dari penjajahan bangsa yang tidak memiliki peradaban kemanusiaan, tetapi kini bangsa Indonesia dijajah oleh Negaranya sendiri Yaitu Indonesia. Sungguh memilkuan kejadian ini, Pemerintah memiliki mental yang "CACAT" dan "BUTA". Pemerintah seakan - akan menganggap kami ini mati, dan tiada berdaya. Pemerintah seolah tak menganggap kami satu, mereka menjadikan kami sebagai batu.
Kematangan mental pun dipertanyakan saat ini, apakah dahulu pemerintah, pejabat, kepala pemerintahan mengenyam pendidikan dengan hanya membayar uang lalu lulus begitu saja? atau mereka hanya membeli ijazah lalu memimpin negara ini?
percuma saja lulus dengan predikat tertinggi, tetapi tidak memiliki "AKAL", "MENTAL", "PEMAHAMAN". Percuma saja.......
"Lebih baik tidak usah menjadikan kepalamu sebagai keserakahan, tetapi lebih baik kepalamu kau jadikan sebagai bagian dari rakyat." mungkin itulah ungkapan yang bisa dijadikan sebagai rasa berduka yang mendalam bagi para pemimnpin yang tidak memiliki OTAK dalam berperan.

1 komentar:

Mochammad Ichlas mengatakan...

Karya adalah bukti, wujud dari keberadaan manusia. Keberadaan manusia salah satunya dinilai dari produktivitas karyanya, seberapa berapa berkualitaskah karyanya itu dan seberapa banyakkah karyanya itu. Eksistensi manusia hadir lewat hasil produktivitasnya, begitu kata Nietzsche.

Namun terkadang selayaknya manusia, sang pengkarya takut dan khawatir terhadap suatu hal. Takut dan khawatir terhadap hegemoni yang diciptakan negara maupun hegemoni yang dikembangkan masyarakat. Persoalannya menjadi mana yang boleh dan mana yang tidak, mana yang layak dan mana yang tidak.